Dia. Dia yang berada jauh dariku. Dia yang sedang menempuh pendidikan di kota angkringan, berhasil mempermainkan hatiku. Dia dengan semua ketidakpastian yang dia berikan, namun tetap buatku bertahan di posisi yang sama. Dia yang berhasil ku rebut dari sahabatku. Dia yang berhasil membuatku tak menoleh ke wanita lain. Dia yang masih tetap pada ketidakpastian untuk memilih ku atau tidak. Dan dia yang masih penuh dengan teka-teki yang bahkan dirinyapun tak bisa menjawabnya. Sebelumnya, tak pernah ku dibuatnya kecewa. Ketika dia berkata tidak ingin punya hubungan lagi denganku. Bukan, bukan itu yang membuatku kecewa, aku masih berpikiran jernih dan paham akan dia beserta ketidakpastiannya. Setelah penantian yang lama dia pun menghubungiku dan mengajak untuk bertemu. Ku penuhi permintaannya dengan perasaan yang bahagia. Namun, ketika bertemu dengannya, disitulah kekecewaan pertama kali datang. Tapi apalah arti kekecewaan dibandingkan rasa sayang yang ku miliki. Sekarang ku coba untuk menghindarinya, tidak untuk meninggalkannya, namun untuk mempersiapkan diri lebih baik lagi.Walaupun mungkin di depan nanti dia akan bersama yang lain. Tapi aku tahu Tuhan akan memberikan yang terbaik. Jika jodohnya bukanlah aku, maka aku bukan yang terbaik untuknya. Karena dia, sudah menjadi yang terbaik untukku.